![]() | ||
Sumber Gambar : http://m.inilah.com |
Ulah era nyarita make basa Sunda, Bener...Bener...Bener (Jangan malu berbicara menggunakan bahasa sunda, betul...betul...betul). Ya kalimat itu yang membuatku tidak malu untuk menceritakan kisah dimana aku mulai mengenal bahasa sunda.
Sekitar 10 tahun yang lalu aku dan adikku laki-laki didaftarkan di Taman Pendidikan Al Qur’an
(TPA) di daerahku, kira-kira saat itu usiaku berumur 8 tahun dan adikku berumur
6 tahun. TPA yang baru kumasuki itu
berada di kawasan penduduk yang berbahasa sunda, sedangkan aku dan adikku dari
keluarga yang berketurunan jawa-Yogya. Bisa
dipastikan aku layaknya seorang manusia yang baru diturunkan di planet pluto,
gelap-senyap karena tak tau sedikitpun arti bahasa yang diucapkan kawan-kawanku
kala itu.
Bahasa sunda
yang mampu kuserap di awal masuk kala itu adalah: Naon (apa.red). ya hanya kata itu saja yang benar-benar melekat di
otakku, hingga akhirnya setibanya di rumah aku hanya mengucapkan naon-naon saja. Di otakku kala itu terbesit jika bahasa
satu ini cukup unik dan membuatku terus bertanya pada teman-temanku apa bahasa
sundanya kaki sampai rambut haha. Berikut hasilnya bahasa indonesia-bahasa sunda :
- Kaki : suku
- Tangan : lengen
- Rambut : buuk
- Muka : benget
- Kepala : sirah
- Gigi : huntu
- Bibir : biwir
Tak terasa
sudah lebih dari 5 tahun aku dan adikku berada di lingkungan warga sunda ini ,
berbagai kosakata bahasa sunda masih banyak juga yang belum kuketahui, seperti
istilah goreng di pelajaran Akhlak
kala itu membuatku mengerutkan jidat, guruku seringkali mengucapkan kata itu. Aku
menggerutu sendiri gorang-goreng, emang
pisang goreng?. Belakangan aku baru tau kalau arti dari kata goreng itu adalah jelek, jadi setelah sebulan pelajaran di ajarkan 3 bulan kemudian
baru mengerti isinya haha. Pernah juga aku dan adikku menjadi bahan tertawaan teman-temanku
kala itu, saat aku salah pengucapan bahasa sunda. Aku yang dari lahir hanya kenal
bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa jawa-yogya sebagai bahasa
harian, tampak sangat lucu saat mengucap kata enteung bahasa sunda yang berarti cermin ini pengucapan “ng”
dibagian akhir tidak sekedar mengucap “ng” seperti biasa, tapi ada teknisnya
(bisa tanya orang sunda ya untuk teknisnya hehe, saya agak bingung
menjelaskannya)
Sekian tahun
berada di lingkungan sunda, membuatku mengerti jika tingkatan bahasa sunda itu
ada kasar dan halus. Sebagai contoh Kepala : sirah
(kasar) > mastaka (Halus), Muka: beungeut
(kasar) > raray (halus). Perlu kalian
tau juga bahwa bahasa sunda dan bahasa jawa (non sunda) mempunyai kesamaan
bahasa, namun berbeda arti. Dalam bahasa sunda cokot itu mempunyai arti
ambil/mengambil kalau bahasa jawa cokot itu
artinya gigit. Bisa-bisa salah paham jika bicara dengan orang jawa yang tidak
kenal bahasa sunda, jika ada orang sunda bilang “ cokotken piring” (ambilkan
piring) orang jawa mikirnya “gigitlah piring”. Selanjutnya jika dalam bahasa
sunda gedang itu mempunyai arti
pepaya, jika bahasa jawa gedang itu
mempunyai arti pisang.
Akhirnya,
sekian lama belajar bahasa sunda ini, membuatku percaya bahwa Indonesia itu
laksana pelangi, mempunyai berbagai warna bahasa yang membuatnya semakin indah.
Saling menghargai sesama suku juga bisa diwujudkan dari mengenal bahasa satu
sama lain. Jadi tidak pernah ada ruginya belajar bahasa daerah manapun. Saat ini
sedikit banyak aku mengerti bahasa sunda, jika aku dibuang di negara yang isinya
orang sunda sekalipun aku tak pernah akan tersesat karena aku mengerti bahasa
sunda, meski belum sampai tingkatan bahasa sunda halus, dan
"Postingan
ini diikutsertakan di AkuCinta Bahasa Daerah Giveaway"
![]() |
http://www.niarningrum.com/2013/02/aku-cinta-bahasa-daerah-giveaway.html |
kirain sunda itu bahasanya halus semua, soalnya orangnya mulus2 ... eh? :D
ReplyDeleteAku suka nada bicara orang Sunda, di akhirannya meninggi. Pernah kapan hari pas jalan2 sama Mama ke Bandung, main ke rumah Kang Aming, jadi senyum2 sendiri. Kata Mama, "Suaranya orang sini enak didengar ya..."
secara kalau di rumah kan kami hobi teriak2 :D
Hampir mirip ya, bahasa sunda dengan bahasa jawa. Ada tingkatan juga. Eh, dulu aku juga pernah belajar bahasa sunda. Yang paling aku inget itu "Bumi"
ReplyDeletehehehe
Kelas satu SD -_-
Ayo belajar bahasa Madura, alek se raddhin.
ReplyDelete@Tha Artha : hahahha rata2 emang halus dan mulus kulitnya,,putih2 kwkwkkw..... wahhh aku juga sangat suka,,apalgi kalau pakai bahasa lemesnya
ReplyDelete@Sista Vera..wahh akhirnya singgah ke sini jugaa,terimakasihh sista :) ya Bumi itu rumah kan artinya :)
@Muhhammad Affan : saya blas nggak tau dialek madura :)
urang sunda kok pada malu pake bhs sunda. urang jawapun gak malu pake bhs jawa. ini yg membuat urang sunda kehilangan jatidirinya. kliatannya malah pada lebih suka sama bhs betawi yg pake gue elo dan serba e e e e...
ReplyDeleteini yg bikin budaya menjadi luntur
Bumi priyangan memang bikin betah, udaranya sejuk.
ReplyDeletekalaupun ada yang agak kasar tapi nadanya tetap lebih rendah sepertinya
ReplyDeleteHalus Kasar mah tergantung yg menanggapi.... yg pasti di Bandung itu adem..
ReplyDeletehttp://www.mygurukufile.ml/2016/03/media-pangajaran-aksara-sunda.html
Iya yah ternyata bahasa sunda itu punya keunikan tersendiri, bahkan jika sudah ngobrol dgn orang non-sunda. Ah pokona mah basa sunda sae pisan :D
ReplyDelete